Kamis, 03 Desember 2009

MAKALAH ILMU MANTIQ KAUSALITAS

BAB I

PENDAHULUAN

Keyakinan manusia akan hokum kausalitas sudah ada sejak zaman kuno. Bahwa tidak ada satupun peristiwa terjadi secara kebetulan, melainkan semuanya mempunyai sebab yang mendahuluinya, dapat kita telusuri sejak peradaban manusia dalam sejarah. Bukti itu dapat kita temui pada abad kelima sebelum masehi, yaitu pada ucapan seorang Filosof Yunani Leucipos. Nihil fit sine causa (tidaka ada satupun peristiwa yang tidak mempunyai sebab). Namun demikian tidak berarti jauh sebelumnya manusia belum mengenal peristiwa sebab akibat.

BAB II

HUKUM SEBAB AKIBAT

(KAUSALITAS)

A. PENGERTIAN HUKUM SEBAB AKIBAT (KAUSALITAS)[1]

“Sebab” sebagai sesuatu yang melahirkan akibat mempunyai banyak pengertian:

a. Dilihat dari kemestian adanya:ada sebab yang mesti (necessary cause)dan sebab yang menjadikan (sufficient cause).

Sebab yang mestinya adalah suatu keadaan bila tidak ada maka akibatnya pun tidak ada.tetapi dengan adanya akibat sebab itu tidak harus terjadi.contoh:api menyebabkan adanya kebakaran rumah.tanpa adanya api kebakaran rumah tidak harus terjadi.

Sedangkan sebab yang menjadikan adalah adanya sesuatu menyebabkan timbulnya akibat.tidak adanya sebab akibatpun tidak ada.atau dengan kata lain,adanya sebab adanya akibat,tidak adanya sebab tidak adanya akibat.

Contoh: adanya api menimbulkan adanya panas.jika api tidak ada maka panas pun tidak ada.contoh lain adanya lampu menyebabkan terang ruangan,maka tidak adanya lampu ruangan pun tidak terang.terbitnya matahari mengakibatkan adanya pagi.tanpa matahari terbit pagipun tidak ada.

b. Dilihat dari jaraknya dengan akibat:ada sebab yang langsung(dekat)ada sebab yang jauh.

Yang dimaksud dengan sebab yang langsung(dekat)ialah sebab yang langsung mengakibatkan peristiwa setelah sebab itu terjadi.sedangkan sebab jauh ialah sebab yang mengakibatkan adanya peristiwa lain setelahnya tapi diselingi oleh beberapa sebab yang lain.contoh, adanya A mengakibatkan adanya B,B mengakibatkan adanya C,C mengakibatkan adanya D,D mengakibatkan adanya E.adanya A mengakibatkan adanya B adalah sebab yang dekat,adanya B mengakibatkan adanya C adalah sebab yang dekat.tapi adanya A mengakibatkan adanya D maka a adalah sebab yang jauh begitu juga adanya B mengakibatkan adanya E,B adalah sebab yang jauh. Untuk lebih mudah dapat kita lihat dalam gambar berikut:

Sebab jauh




A B C D E

Sebab langsung sebab langsung

Contoh dalam kasus dapat kita lihat berikut ini:

Tewasnya seorang mahasiswa.ia tewas ketika mobilnya berjalan dengan kecepatan tinggi ditabrak oleh mobil lain.ia mengendarai sebuah mobil.ketika lampu lalu lintas masih merah ia tetap jalan sehingga mobil yang berlawanan arah menabraknya dan sekaligus menewaskannya.mengapa ketika lampu merah ia terus berjalan ,karena ia tergesa-gesa ingin sampai ke kampus.kenapa ia tergesa-gesa,karena ia akan mengikuti ujian ,sedang hari sudah siang,ia berangkat terlambat,kenapa ia berangkat terlambat,karena malam hari ia bergadang.kenapa ia bergadang, karena belajar untuk ujian besok dan seterusnya.disini kita lihat ada beberapa sebab yang menyebabkan kematian si mahasiswa.namun kalau kita cermati ada penyebab langsung yaitu melanggar lalu lintas hingga ditabrak oleh mobil lain,sedangkan sebab jauhnya adalah mengikuti ujian.

c. Dilihat dari akibat yang ditimbulkan.

Ada sebab yang satu menimbulkan akibat yang satu juga seperti: terlau tegang mengakibatkan pingsan, tekanan darah tinggi menyebabkan penyakit struk.dan sebagainya.

Ada juga sebab yang satu menyebabkan akibat yang banyak,contoh: kemiskinan bisa menyebabkan kelaparan, kekafiran, pencurian, kebodohan, pelacuran, dan sebagainya.

Ada juga sebab yang banyak menyebabkan akibat yang satu, contoh: keracunan, tertembak, penyakit livers, sars. kesemuanya ini menyebabkan akibat yang satu yaitu kematian.

Berikut adalah contoh

B.METODE INDUKSI MILL.[2]

Dua aksioma kausalitas diatas merupakan dasar bagi John Stuart Mill(1806-1873) seorang filosof inggris untuk merumuskan empat metode induksi yang kemudian terkenal dengan sebutan Metode penyimpulan induktif mill.empat metode tersebut adalah:metode persetujuan,metode perbedaan,metode persamaan variasi,metode siasisihan.kemudian orang yang dating sesudah mill menambah satu metode lagi yaitu metode gabungan persetujuan dan perbedaan.

1.Metode Persetujuan.

Maksud metode ini adalah :’apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mempunyai factor yang sama,maka factor itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki”

Taruhlah misalnya dalam suatu asrama,tiba-tiba seluruh penghuninya terserang berak dan muntah-muntah.separuh dari mereka diwawancarai untuk menemukan sebab dari malapetaka itu.mereka ditanya tentang apa yang dimakan hari itu.mahasiswa pertama menyatakan makan nasi,pisang,telor goring,kerupuk,bakso dan ayam opor kiriman.mahasiswa kedua makan nasi pisang,telor pisang,telor goreng,bakso dan ayam opor kiriman.mahasiswa keempat makan nasi,telor goring,kerupuk,dan ayam opor kiriman.mahasiswa kelima dan mahasiswa keenam makan kerupuk,bakso,dan ayam opor kiriman.bila masing-masing makanan yang dipilih mahasiswa ini kita tuliskan dengan huruf A,B,C,D,E dan F maka hasil wawancara ini akan lebih jelas bila ditampilkan sebagai berikut:

Peristiwa

Faktor dalam peristiwa

Gejala

1

A,B,C,D,E,F

Sakit perut dan muntah-muntah

2

A,B,C,D,-,F

Sakit perut dan muntah-muntah

3

-,B,C,-,E,F

Sakit perut dan muntah-muntah

4

A,-,C,D,-,F

Sakit perut dan muntah-muntah

5

A,B,-,D,E,F

Sakit perut dan muntah-muntah

6

-,-,-,D,E,F

Sakit perut dan muntah-muntah

Disini terlihat gejala yang diselidiki adalah ‘sakit perut dan muntah-muntah’,peristiwanya adalah ‘makan dari makanan kiriman’sedangkan jumlah peristiwanya enam.

Dari data tersebut maka akan tersimpulkan bahwa F penyebab sakit perut dan muntah-muntah,jadi kemungkinan besar sakit muntah dan sakit perut itu disebabkan oleh factor yang ada pada setiap peristiwa yaitu ayam opor kiriman.

Contoh lain dapat kita kemukakan adalah tentang penyakit tipus yang menyerang suatu desa.tingkah laku setiap pasien berbagai ragam dalam corak kehidupan sehari-hari dalam memenuhi kebutuhan hidup,berbeda umur dan latar belakang pendidikannya serta keadaan ekonominya,tetapi kesemuanya bersamaan dalam hal menggunakan sumber air minum.dengan demikian sumber air merupakan factor yang ada pada setiap macam fenomena,maka dapat disimpulkan bahwa air minum itulah yang menyebabkan timbulnya wabah tipus.

2.Metode Perbedaan.

Maksud metode ini adalah :”jika sebuah peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya,namun faktornya sama kecuali satu,dan yang satu itu terdapat pada peristiwa pertama maka factor satu-satunya itu yang menyebabkan peristiwanya berbeda itu adalah factor yang tidak bisa dilepaskan dari sebab terjadinya gejala.

Contoh untuk metode ini dapat kita kemukakan tentang keracuan ringan pada asrama mahasiswa sebagaimana yang telah kita sebut.pada penyelidikan lebih lanjut,ternyata mahasiswa yang tidak makan opor ayam kiriman tidak terkena muntah dan sakit perut.bila mahasiswa yang tidak terkena sakit ,kita beri kode n,dengan table singkat dapat kita tampilkan sebagai berikut:

Peristiwa

Keadaan peristiwa

Gejala

1

A,B,C,E,F

Sakit

n

A,B,C,E,-

Tidak sakit

Dari data tersebut dapat kita simpulkan bahwa F adalah sebab bagi timbulnya sakit.dengan begitu dapat kita katakan bahwa kemungkinan besar ayam opor kiriman yang menyebabkan muntah dan sakit perut.kita tidak boleh mengatakan bahwa ayam opor adalah sebab satu-satunya bagi timbulnya sakit,tetapi lebih tepat bila kita katakan merupakan sebab yang tidak bisa dipisahkan dari timbulnya sakit.dalam contoh berikut hal itu akan lebih jelas,bila kita mempunyai korek api yang satu ada sumbunya dan yang satu tidak,maka korek yang ada sumbunya dapat kita nyalakan,sedangkan yang tidak ada sumbunya tidak dapat kita nyalakan,meskipun ia mempunyai batu dan gas,dan keadaan yang lain sama dengan korek yang mempunyai sumbu.oleh karena itu,tidak tepat kalau kita katakan bahwa sumbu itu merupakan sebab bagi menyalanya korek api, tetapi lebih tepat merupakan sebab yang tidak bisa kita pisahkan dari sebab yang menjadikan korek api itu menyala.

Contoh lain tentang aplikasi dari Metode Perbedaan ini adalah pembuktian bahwa demam kuning itu ditularkan oleh gigitan nyamuk bukan olenh yang lain, seperti singgungan, kumpul bersama atau memakai pakaian orang yang terkena penyakit demam kuning.

Sebuah bangunan kecil didirikan dan semua pintu, jendela atau tempat terbuka diberi kerai sedemikian rupa sehingga banguna tersebut benar-benar terbebas dari nyamuk.Ruangan banguna itu kemudian dibagi menjadi dua dengan kerai kawat anti nyamuk. Dalam kamar yang satu dilepaskan lima belas ekor nyamuk yang membawa penyakit malaria kuning. Seorang sukarelawan yang belum pernah diimunisasi masuk ke dalam kamar itu. Empat hari kemudian orang tersebut terserang penyakit malaria kuning. Sedangkan dua orang sukarelawan yang juga belum diimunisasi tidur diruanganyang satunya selama tiga belas malam tidak menderita apa-apa.

Untuk membuktikan bahwa penyakit itu dirularkan oleh nyamuk dan bukan oleh kontak dengan penderita demam kuning, maka sebuah bangunan anti nyamuk didirikan. Selama dua puluh hari ruangan ini dihuni oleh tiga orang sukarelawan yang belum diimunisasi damam kuning. Mereka semua diberikan pakaian, tempat tidur, bekas orang yang mati karena penyakit itu. Di ruangan itu juga ada darah dan muntahan orang yang terkena penyakit itu tanpa dicuci atau dibersihka lebih dahulu sehingga sprei, bantal, pakaian, kasur masih tetap tercemari sabagaimana waktu dipakai oleh si mati. Penyelidikan menunjukkan bahwa ketiga orang itu tidak menderita gangguan apa-apa.

3. Metode Persamaan Variasi

Maksud metode ini adalah: “Apabila suatu gejala yamg dengan sesuatu cara berubah ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu, maka gejala itu adalah sebab akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat”.

Contoh dari penerapan metode ini adalah panas dengan air raksa pada thermometer. Panas itu menimbulkan kenaikan air raksa. Kenaikan air raksa mempunyai variasi seperti variasi panas itu. Maka air raksa dengan panas itu mempunyai hubungan sebab akibat. Jika kita tampilkan dalam table maka Metode Persamaan Variasi adalah seperti berikut:

Sebab

Akibat

A B C

a b c

A + B C

a + b c

A – B C

a – b c

Jadi A mempunyai hubungan kausal dengan a

Metode ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara luas. Seorang petani dapa mengetahui dengan mudah hubungan kausalitas antara kesuburan tanah dengan hasil panenan. Semakin tinggi derajat kesuburan tanah semakin bagus hasil panenan dan demikian sebaliknya. Seorang pedagang mengerti benar hubungan kausalitas antara efektivitas advertensi dengan jumlah barang yang terjual. Semakin tinggi daya bujuk advertensi yang dikeluarkannya semakin banyak jumlah barang yang dapat dijualnya. Disini terjadi hubungan persamaan variasi positif, arttinya grafik naik dari suatu perilaku diikuti grafik naik dari perilaku yang lain.

Sering pula terjadi bahwa hubungan kausalitas dari metode persamaan variasi ini menunjukkan sifat negative, artinya satu perilaku yang menunjukkan grafik naik, mengakibatkan grafik turun pada perilaku lain. Dan begitu sebaliknya dalam table kenyataan ini dapat kita tampilkan sebagai berikut:

Sebab

Akibat

A B C

a b c

A + B C

a + b c

A – B C

a - b c

Jadi A mempunya hubungan kausal dengan a

Contoh dari kenyataan kedua ini misalnya dalam keadaan tuntutan kebutuhan hidup tetap, bertambahnya jumlah barang yang yang ditawarkan akan menurunkan harga, dan sebaliknya berkurangnya jumlah barang yang akan ditawarkan akan menyebabkan naiknya harga. Semakin tinggi serangan hama menyerang samakin bertambah hasil panenan.

Metode persamaan variasi sangat penting dalam penyelidikan induktif yang bersifat kuantitatif, mendahului penyelidikan yang bersifat kualitatif. Gunanya adalah sebagai peramal dalam mengukur dan menduga, meskipun secara kasar, atas perilaku yang mempunyai fenomena yang bervariasi.

4. Metode Sisasisihan

Maksud metode ini adalah: “Jika ada peristiwa dalam keadaan tertentu ini merupakan akibat dari factor yang mendahuluinya, maka sisia akibat yang terdapat pada peristiwa itu pasti disebabkan oleh factor lain”.

Dalam bentuk metode ini dapat ditampilkan sebagai berikut:

Sebab

Akibat

A B C

a b c

B diketahui penyebab dari b


C diketahui penyebab dari c


Jadi A adalah penyebab dari a

Contoh termasyhur dalam hal ini adalah penemuan planet Neptunus, pada tahun 1846. Penemuan ini sebagai akibat perhitungan terhadap orbit planet Uranus.

Perhitungan terhadap orbit Uranus ini didasarkan atas akibat yang telah diketahui dan akibat ini berasal dari sebab yang dimiliki oleh planet-planet yang sudah diketahui. Tetapi ditemui perbedaan antara orbit yang diperhitungkan dengan orbit yang disaksikan melalui teleskop. Timbul pendapat bahwa tentu ada planet lain yang menjadi sebab bgai sisa akibat itu. Berdasarkan dugaan itu maka Adams dari Cambridge dan Leverrier dari Perancis bekerja sama menetapkan posisi planet lain yang menyebabkan gangguan terhadap orbit Uranus. Pada tanggal 23 September 1846, Dr. Gill dari Royal Academy of Berlin mengarahkan teleskop kea rah posisi planet pengganggu yang telah diperhitungkan dan dalam tempo setengah jam saja ditemukan planet baru yaitu planet Neptunus.

5. Metode Gabungan Persetujuan dan Perbedaan

Seperti namanya, metode ini merupakan variasi dari metode Persetujuan dan Perbedaan. Maksud Metode ini adlah: “Jika ada sekumpulan peristiwa dalam gejala tertentu hanya memiliki sebuah factor yang bersamaan, sedangkan dalam beberapa peristiwa dimana gejala itu tidak terjadi, dijumpai factor-faktor lainnya yang juga dijumpai pada saat gejala itu terjadi kecuali sebuah factor yang bersamaan, maka factor ini merupakan factor yang mempunyai hubungan kausal dengan gejala itu”.

Contoh dari penggunaan metode ini adalah sebagaimana kita meneliti sebab-sebab penyakit tifus yang melanda suatu desa, tetapi diperhitungkanjuga factor-faktor lainnya terhadap orang yang tidak terkena penyakit tifus di desa itu. Dalam table metode itu dapat ditampilkan sebagai berikut.

Sebab

Akibat

A B C

a b c

A D E

a d e

A B C

a b c

B C

b c

Jadi A adalah bagian yang tidak bisa terpisahkan dari penyebab timbulnya a

Menggunakan metode ini menghasilkan konklusi yang lebih kuat dibandingkan jika kita menggunakan metode itu secara terpisah. Contoh lain tentang penerapan metode ini adalah apa yang dilakukan oleh Eijkman:

Eijkman memberi makan pada sekelompok ayam dengan beras yang betul-betul putih. Ternyata ayam itu kesemuanya terserang polyneuritis (radang saraf)dan sebagian besar mati. Ia memberi makan kepada sekelompok ayam yang lain dengan beras yang masih bercampur dengan dedak. Ternyata tidak satupun ayam-ayam itu sakit. Kemudia ia mengumpulkan ayam yang terkena radang saraf dengan ayam yang sehat ini dan diberi makan beras yang bercampur dedak. Ayam-ayam yang sakit itu kemudian sembuh.

C. Kekeliruan Dalam Penalaran Kausalitas

Kekeliruan yang sering terjadi di kalangan orang-orang yang kurang cermat berfikir adalah Post hoc propter hoc artinya suatu penalaran yang menyatakan bahwa ini terjadi sesudah itu terjadi, maka ini merupakan akibat dari itu. Dengan kata lain, suatu kekeliruan karena mengakui sesuatu yang terjadi berurutan maka peristiwa yang kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama atau yang mendahuluinya. Kita telah mengetahui bahwa untuk membuktikan hubungan sebab akibat suatu peristiwa tentu tidak sekedar menyimpulkan bahwa peristiwa kedua merupakan akibat dari peristiwa pertama. Contoh kasar dari cara penalran ini adalah:

Sesudah ayam berkokok maka terbitlah siang. Jadi siang terbit karena ayam berkokok.

Setelah ia bermalam di sini, pabrik ini kecurian setengah milyar. Karena itu pastilah dia pencurinya.

Setelah tanggal 17 Agustus ini harga barang-barang pokok turun tajam. Jadi tanggal 17 merupakan angka keramat yang menyebabkan harga-harga barang-barang pokok turun.

Kita memang sering menjumpai orang-orang bernalar Post hoc propter hoc. Contoh klasik bernalar ini dapat kita jumpai pada kisah John Stuart Mill, yang menceritakan bagaimana sekelompok penduduk menyatakan bahwa pasir apung yang terbentuk di pantai disebabkan oleh menara gereja yang didirikan disitu, mereka berkata:”Sebelum menra gereja Tenterton ini dibangun, tidak ada pasir apung di pantai. Tetapi segera sesudah menara itu dibangun, pasir apung itu muncul”.

Kekeliruan bernalar serupa, tidak saja melanda orang yang tidak terdidik, tetapi dapatjuga kita temukan di antara orang-orang yang mengecap pendidikan cukup. Ditanyakan kepada sekelompok orang, mengapa kebudayaan Romawi Yunani musnah? Sering benar mengherankan bahwa jawaban yang diberikan bukanlah atas pertimbangan hokum kausalitas yang cukup, melainkan dengan jawaban yang sederhana karena kekaisaran Romawi runtuh. Bahwa kemusnahan kebudayaan Rmawi Yunani terjadi sesudah kekaisaran Romawi benar-benar hancur, tetapi bila disimpulkan bahwa kebudayaan Romawi Yunani hancur karena runtuhnya kekaisaran Romawi ini adalah cara bernalar Post hoc propter hoc.

Kekeliruan serupa dapat kita jumpai dalamkeyakinan yang tersebar secara luas bahwa bencana-bencana yang melanda dunia sejak tahun 1918 disebabkan oleh Perang Dunia. Di Inggris, dahulu orang berkeyakinan bahwa meningkatnya kemakmuran merupakan akibat pasti dari diberlakukanya Perdagangan Bebas. Sedankan di Jerman meningkatnya kemakmuran merupakan kejadian yang mengikuti kebijakan Bea Perlindungan.

Jelas, kekeliruan ini terjadi karena melihat peristiwa yang ada secara sepintas. Untuk menentukan bahwa suatu peristiwa itu merupakan sebab bagi peristiwa lainnya tidaklah sekedar menunjuk bahwa peristiwa pertama adalah sebab dari peristiwa yang kedua. Kita harus dapat menjelaskan secara cermat bahwa kedua peristiwa itu memang mempunyai hubungan yang pasti (necessary connection). Apabila peristiwa kedua tidak mempunyai hubungan relevan dan pasti dengan peristiwa pertama, maka bertentangan dengan hokum-hukum yang telah diketahui.

DAFTAR PUSTAKA

Mundiri. 1994. Logika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Shidik, Sapiudin. 2004. Diktat Perkuliahan Ilmu Mantiq (Logika). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.



[1] Drs. Sapiudin Shidik, M. Ag. Diktat Perkuliahan Ilmu Mantiq (Logika). (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2004). Hal: 61-62

[2] Drs. H. Mundiri. Logika. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994). Hal: 174-184.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar